Showing posts with label Science. Show all posts
Showing posts with label Science. Show all posts

Saturday, April 13, 2013

GeoMagz : dari Badan Geologi untuk Indonesia

Yakin nggak ada majalah seperti NatGeo yang cukup bagus dari Indonesia aseli?
Habis dari mana saja, bro? Habis liburan ke bulan dan beritanya belum sampai sana, ya?

Badan Geologi sekarang menerbitkan sebuah majalah triwulan dengan nama GeoMagz (GeoMagazine). Salah satu misinya adalah ngaronjatkeun (Nyunda lagi) minat dan mengajak siapapun, terutama kalangan umum, untuk melihat Indonesia dari salah satu jendela yang ada: geologi. Dan luar biasa sekali 'pemandangan' yang bisa kita lihat dari sana.

Dan kualitasnya? Don't even need to doubt it. Kebanyakan penulis artikelnya adalah peneliti-peneliti dari Badan Geologi sendiri, yang kerap kali juga merangkap pemimpin suatu organisasi, peneliti, atau pemerhati lingkungan. Sebut saja, T. Bachtiar dan Budi Brahmantyo. Majalahnya berupa majalah populer yang tak terlalu berat untuk dicerna, penuh dengan gambar-gambar berwarna. Kalau versi cetaknya, aku yakin cover dan halaman isinya berkualitas lebih bagus dari NatGeo Traveller.

AAANDD.. kabar baiknya, majalah ini GRATIS. Baik versi cetak maupun elektroniknya. In fact, salah satu tulisan saya pernah dimuat di sana entah di volume yang mana. Jika anda berminat, silakan:

Geomagz Vol. 1 No. 1
click here to download










Geomagz Vol. 1 No. 2
click here to download
 









Geomagz Vol. 1 No. 3
click here to download






 
Geomagz Vol. 1 No. 4
click here to download


Geomagz Vol. 2 No. 1
click here to download
Geomagz Vol. 2 No. 2
click here to download
Geomagz Vol. 2 No. 3
click here to download










Geomagz Vol. 2 No. 4
click here to download










Geomagz Vol. 3 No. 1
click here to download

 







Wednesday, April 3, 2013

In Memoriam



In the memory of Steve Irwin

 

 Setiap orang, ya, setiap orang, pasti memungut sesuatu di setiap jalan kehidupannya dan menjadikan 'sesuatu' itu bagian dari dirinya. Seperti mengumpulkan keping-keping berwarna untuk membentuk suatu mozaik.  Seperti menjahitkan carikan-carikan perca untuk membuat satu arpillera yang sernpurna.

(sebagian tulisan ini diambil dari catatan lama, bertanggal 24 Mei 2011)

Thursday, March 7, 2013

Dragons DO Exist!

I saw this picture days ago and can't have it out of my mind. It's too beautiful and cool and cute for words, even for a 'dragon'...



Nama latinnya Cordylus cataphractus. Dalam bahasa Inggris disebut dengan armadillo grilled lizard a.k.a golden armadillo lizard a.k.a2 lainnya... coba cek link Wikipedia ini.

Spesies ini merupakan hewan endemik di gurun pasir di Afrika. Warnanya bervariasi dari cokelat tua sampai cokelat muda, tergantung spesiesnya. Pada bagian bawah tubuhnya berwarna kuning dengan pola berwarna gelap, terutama di bawah kepala. Kadal ini menggulung tubuhnya yang penuh tanduk tajam sebagai pertahanan diri ketika merasa terancam. Dengan panjang sekitar 16-21 cm, pose menggulung ini juga membuatnya terlihat seperti pocket sized baby dragon :)

Kadal ini adalah salah satu spesies menakjubkan yang agaknya membuat dunia nyata makin tak jauh dari dunia fiksi saja... atau memang dunia fiksi yang tak jauh-jauh dari dunia nyata? Boleh dibilang, setiap yang melihat foto ini pasti terpikir naga. Mirip Sandslash dari Pokemon. Seperti Norwegian Ridgeback dari Harry Potter. Bahkan ada yang bilang ini Toothless dari How to Train Your Dragon ^^

Kabar baiknya, hewan ini bisa ditemukan di toko hewan piaraan saking terkenalnya. Kadal ini juga cukup mudah ditangkarkan. Kabar buruknya, karena saking unik dan imutnya hewan ini, jumlahnya populasinya mulai terpengaruh oleh penangkapan dan menempatkannya dalam daftar hewan terancam IUCN. Dengan banyaknya penangkapan demi menjualnya serbagai hewan piaraan, spesies ini menjadi terancam. 





Namun, mengingat hewan ini di alam hidup dalam kelompok yang mencapai 60 anggota, memelihara satu atau dua saja sepertinya kejam. Menurut saya, biarlah hewan ini tetap menjadi naga di habitatnya sendiri.

Fakta unik lagi, induk kadal armadillo ini tidak bertelur, melainkan melahirkan satu atau dua anak kadal setiap kali. Bahkan ada yang memelihara dan memberi makan anaknya. Sama tidak biasanya dengan melahirkan di dunia kadal.

Exploding Toads of Hamburg

Misteri Katak yang Meledak dari Hamburg. And when I write 'explode', I really mean it!

Pada April 2005, ada kabar aneh yang tersiar di Hamburg, Jerman. Menurut para penduduk, agaknya katak-katak di rawa sekitar satu per satu meledak secara spontan; dan dalam beberapa hari saja jumlah katak yang mati dengan cara ini mencapai ribuan. Menurut laporan, saat merangkak di tanah tubuh katak mengembang secara bertahap sampai mencapai ujung tanduk, lalu meledak, melemparkan organ dalamnya sampai satu meter ke udara. Penududuk lokal menjadi khawatir dan karenanya pihak berwajib memperingati agar anak-anak serta hewan piaraan dijauhkan dari rawa. Sementara itu, rawa tersebut juga diisolasi dan rawa itu kini dikenal dengan nama "Pond of Death".

Apa kiranya penyebab fenomena ganjil ini? Barangkali para penduduk itu cuma salah lihat?Apakah ini hanyalah hoax belaka, atau adakah penjelasan yang logis? Para ahli berspekulasi bahwa ada semacam virus atau jamur di rawa yang menyebabkannya, secara pernah ada kuda yang terinfeksi semacam jamur di istal pacuan dekat rawa. Ahli lain berpendapat fenomena ini ada hubungannya dengan mutasi terkait dengan penipisan lapisan ozon.

Salah satu amphibian ahli dari Jerman, Franz Mutschmann, tertarik untuk mencari tahu. Ia mengumpulkan sisa kotoran dan mengautopsi katak-katak itu... sisa tubuh mereka lebih tepatnya. Ia mendapati bahwa semua katak sudah hilang organ hatinya, dan masing-masing punya semacam luka sayat yang presisi di punggungnya. Luka ini bisa jadi bekas paruh burung, karena ukurannya cukup kecil. Franz menyimpulkan, bahwa burung gagak-lah yang menyerang para katak dan mengambil hati mereka. Refleks, katak menggembungkan dirinya dengan mengambil udara banyak-banyak, begitulah mekanisme mereka mempertahankan diri. Karena katak tak memiliki tulang rusuk, dan tanpa hati dan dengan lubang di tubuh mereka, penggembungan ini menyebabkan paru-paru dan pembuluh darah pecah, melontarkan usus si katak ke udara.

Namun kenapa pula si gagak perlu pilih-pilih segala? Cuma memakan hatinya dan bukan seluruh kataknya sekalian? Rupanya organ yang paling layak untuk dimakan ya hanya hati itu, mengingat kulit katak cukup beracun. Burung gagak adalah makhluk cerdas yang mampu mengamati dan mempelajari hal baru. Dalam kasus ini, sepertinya seekor gagak melihat gagak lain mengambil dan menikmati hati katak lalu menirunya. Kebiasaan ini lalu menyebar.


Source:
Diterjemahkan secara bebas oleh Nan dari: Why dogs eat poop & other useless or gross information about the animal kingdom (oleh Gould & Haviland) published by the Penguin Group.

Friday, February 22, 2013

Fighting for Life : Lindungi Pesut Mahakam!



Pesut Mahakam atau dikenal juga dengan Irrawady dolphin (Orcaella breviratris) adalah subspesies yang semakin terancam keberadaannya. Di habitat aslinya yaitu Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irrawadi di Kalimantan Timur, jumlahnya semakin menyusut dan dikabarkan bahwa jumlahnya hanya sekotar 50 ekor yang terissa. Bahkan CITES pada tahun 2012 menyatakan tinggal 34 ekor saya yang masih hidup.