Saturday, October 29, 2016

Balearica Nirada & Bramantya's Sudden Substitute





Deg.

Kulihat seseorang mengangkat kedua tangannya, membentuk tanda khusus yang merupakan sebuah kode. Aku tersentak, kaget. Orang itu menggunakan baju lengan pendek berwarna putih, dengan gambar burung berwarna biru dan tulisan Balearica Nirada di bawahnya. Aku, kebetulan, juga memakai baju yang sama, dan orang itu (beserta 133 orang lainnya) merupakan kolegaku medik INTEGRASI ITB 2016. Yang membuatku kaget adalah isyarat yang dibuatnya, dan kondisi aku berada sekarang.

Tiga menit lalu, isyarat itu akan punya cerita yang lain. But the whole storyline had been reworked in 185 seconds.


Hari itu, Jumat 19 Agustus 2016, adalah hari ketiga Inisiasi Terpusat Keluarga Mahasiswa ITB 2016, dulu sebutannya OSKM. Hari ketiga bertugas, hari kelima sebagai medik setelah dua bulan mengikuti diklat. Siang. Adzan Dzuhur baru berbunyi hitungan menit lalu. Matahari bersinar cerah, rumput Lapangan SR tempatku berjaga yang berwarna agak kekuningan terlihat menyilaukan. Mungkin karena maba putri yang berjilbab putih juga berkumpul di sana untuk melaksanakan shalat.

Aku menegakkan diri, menahan beban di tas yang lebih berat dari biasanya. Memicingkan mata melawan cerah, aku berusaha untuk menemukan lokasi anggota pasukanku, Pasukan Khusus 7, di lapangan. Hanya segelintir yang tampak di antara ribuan maba yang bergerak acak, layaknya suspended load dalam aliran turbulen. Acak dengan suatu nett movement ke arah tertentu.

Terdapat 8 pasukan khusus, 1 pasukan base, dan 1 pasukan birawa di medik. Setiap pasukan khusus memiliki komandan, wakil komandan, dua orang PJ Pos Medik, dua orang PJ Tandu, dan seorang PJ Obat. Komandan dan wakilnya memegang komando penuh atas pasukan kami, dan sebelumnya telah mengikuti pelatihan tambahan di sekolah perangkat. Sedangkan PJ-PJ yang ada biasanya dipegang oleh medik biasa secara bergantian. PJ Obat membawa obat-obatan dan peralatan yang lebih lengkap, amanah dari base. Ia dipanggil untuk kasus yang tak bisa ditangani medik biasa. Setiap pasukan khusus juga memiliki daerah bertugas dan nama sendiri-sendiri. Nama tersebut harus keren dan gagah. Arogansi pasukan itu ada.

“Aksatriya Bramantya,” cetus A.syif, ketika kami memutar otak mencari nama.
“Boleh.”
“Sip.”
“Oke fix.”

Semua pasukan khusus diawali kata Aksatriya; kesatria. Bramantya berarti penuh semangat. Nama yang awalnya berupa doa, kemudian target, kemudian doa yang tak terkabulkan dan target yang tak terpenuhi. Detik ini, hampir seluruh pasukan sedang hare-hare di basecamp pasukan. Aku mau (hare-hare juga), tapi malu. Semakin terik matahari, semakin awas dan banyak medik yang ada. Setidaknya begitu seharusnya. Ada 4200 maba yang harus diurus. Integritas harus dipertahankan. Dedikasi dalam bertugas harus diutamakan.

Halah.

Kulihat medik putra yang muslim bergerak meninggalkan posisi mereka, berbondong-bondong menuju Salman. Salah seorang, Kholis namanya, melewati tempatku berjaga di Jalan 1. Aku teringat bahwa ia adalah PJ Obat hari ini, dan bahwa semua spek yang mungkin dibutuhkan bisa tidak accessible selama ia berada di Salman. Impulsif, aku menawarkan untuk bertukar tas. Tas berisi obat dan peralatan PJ Obat berpindah ke punggungku.

Dan begitulah, aku menjadi PJ Obat sementara. Tanpa pikir panjang, berlandaskan common sense bahwa itu adalah keputusan yang baik.

Aku menyelamati diri karena bisa membuat keputusan cepat dan (menurutku) tepat. Itu salah satu hal yang berusaha dilatih melalui simulasi-simulasi ’kejam’ selama diklat. Di group chat pasukan, aku mengetik

Aku bertukar tas dengan Kholis
Spek PJ Obat ada padaku

tanpa benar-benar merasa spek tersebut akan dibutuhkan, paling tidak selama aku ‘menjabat’. Sekarang sedang istirahat, flow rendah, kondisi tenang nan damai - saking damainya bikin ngantuk. what could happen?

“Nadira!”

Seseorang di depanku memanggil menarik perhatianku, menunjuk ke belakangku. Aku menoleh.

Deg

Seseorang mengangkat tangannya membentuk tanda medik. Isyarat itu berarti bahwa : PJ Obat diperlukan. Artinya : ada kasus yang berada diluar kemampuan penanganan medik biasa. Artinya : aku dipanggil.

Now, I didn’t see that coming. Setelah 6 jam bertugas tanpa mendapat kasus, sekarang, 185 detik menjabat sebagai PJ Obat, aku mungkin dihadapkan pada kasus terparah yang pernah kutangani, tanpa persiapan mental yang cukup karena aku menduga tak akan ada apa-apa. I hurried to where my summoner was, praying inwardly so that I could keep my head cool and not screw things up.

Habis, yang ditangani kan anak orang. Kalau ada apa-apa…

Ternyata yang memerlukan bantuan adalah seorang pita merah. Untung aku dipanggil bukan karena penyakit akutnya itu. Aku menghampiri.

“Kamu kenapa?” Aku tersenyum dan menyapa, selagi berusaha terlihat tenang dan terkendali.

Maba putri berjilbab itu balas tersenyum; aku tersenyum makin lebar karena bercampur lega. Those who still managed a smile are pretty much still conscious; masih sadar. Things are in a whole new level of difficulties and panic when they don’t. Jangankan sadar atau tidak, berdasarkan pengalaman, senyum atau tidak juga menunjukkan severeness suatu kasus (mengesampingkan kalau pasiennya memang jutek). Aku teringat kasus maag akut yang kutangani hari sebelumnya, anaknya muntah-muntah dan terlihat sangat pucat. Jangankan balas tersenyum, untuk menjawab ├Ża’’ atau ‘tidak’ saja seperti mau menangis.

Nah maba yang ini sakit ototnya. “Memang biasa gitu kok kalau kecapekan,” katanya. Aku yang dipanggil karena ia berpita merah, tanda bahwa ia mempunyai penyakit yang perlu diwaspadai. Yang ini maag akut.

“Gak apa-apa, kok, kak. Cincai.” Aku ikut tertawa dan menawarkan Counterpain.
“Mau roti juga? Konsumsi belum dibagikan, jaga-jaga saja supaya nggak kambuh maagnya.” Dia menerima sambil mengucapkan terima kasih.

Melihatku di antara mereka, beberapa maba putri datang dan mengeluhkan satu atau dua hal yang bisa ditangani ditempat. Selesai dengan dengan mereka, aku kembali berjaga hingga the rightful PJ Obat kembali.

Aksatriya Bramantya


Hanya pengalaman kecil, sebenarnya. Pengalaman kecil yang teringat setiap kali aku mengambil tanggung jawab. Aku tahu sekarang bahwa setiap tanggung jawab harus diiringi kesiapan mental dan kemantapan hati, tidak bisa sekedarnya dipegang.

Seseorang harus benar-benar sadar mengenai apa yang diamanahkan ke pundaknya. Menyadari apa yang diharapkan oleh orang lain atas dirinya sebagai pemegang sebuah kepercayaan, menyadari apa artinya tanggung jawab itu bagi dirinya, menyadari apa yang harus diberikan, apa yang harus dikorbankan sebagai konsekuensi sebuah kesalahan. Aku bersyukur pada kesempatan itu semua masih berjalan dengan baik. Apa jadinya kalau kasus itu kasus berat, sedangkan aku tak siap, dan tak bisa menangani dengan baik? Bisa saja seseorang celaka di tanganku, karena ketidaksiapan dan sikap ah-tak-akan-ada-apa-apa.

Tanggung jawab itu berat. But one shouldn’t shirk from it, either. And after all, responsibility is not something you can always avoid, right? Being able to deliberately avoid it doesn’t mean that you don’t have one.

Sebuah catatan bagi diri sendiri. Secara natural aku penggugup garis miring peragu, especially about taking a responsibility thingy. Dan kini aku semakin ragu mengingat besarnya arti bertanggung jawab. But I, too, will no longer shirk from it.




… if I can help it.

2 comments: