Sunday, November 27, 2016

Finding Species

Tugas besar praktikum Palentologi



Akhir semster sudah dekat. Jika menilik ke belakang, intentsitas tugas (dan malam-malam nugas yang mengikutinya) dapat digambarkan sebagai grafik fungsi kosinus; tinggi di awal menurun di akhir, dan meninggi lagi. Tinggi di awal itu gara-gara ospek jurusan, dimana agitasi, pushup dan tahan setengah posisi dibawa-bawa ke laboratorium saat praktikum. Menurun karena setelah pelantikan, segalanya “sans lah, udah masuk himpunan juga.” Meninggi lagi di akhir ketika tugas besar yang ganjil-ganjil berdatangan. Yang paling menarik adalah tugas besar untuk praktikum.

Ada 4 mata kuliah semester 3 Teknik Geologi yang mewajibkan untuk ikut praktikum: Sedimentologi, Kristalografi dan Mineralogi, Paleontologi, dan Geologi Fisik, masing-masing sekali setiap minggu. Masing-masing pun harusnya ada ekskursi lapangan, dan ada tugas besar di akhir semester.

Untuk tugas besar praktikum Paleontologi, praktikan diberi waktu 3 menit untuk melihat dan mendeskripsi suatu fosil, lalu disuruh mencari spesiesnya tanpa petunjuk lain dalam bentuk apapun. Selama 10 minggu ke belakang, kami telah belajar cara mengenali, mendeskripsi, dan mengklasifikasi fosil dari 6 filum dan Vertebrata, tapi selalu sampai tingkat kelas atau ordo (dan famili untuk vertebrata). Tidak pernah sampai spesies. Kau tak tahu betapa susahnya sampai mencobanya sendiri.



Inilah fosil yang kudapat. Selama tiga menit yang menentukan itu aku bahkan tidak tahu ini makhluk purba jenis apa, sehingga seluruh format deskripsi yang kuingat menjadi tak berguna. Tegang. Selama aku dengan panik mengambil foto fosil, mengharapkan pencerahan datang di kemudian hari, para asprak tertawa-tawa melihat kami ripuh dengan fosil masing-masing. Seseorang terus meneriakkan hitungan mundur, sedangkan yang lain memutar lagu Mission Impossible keras-keras “supaya kerasa feel-nya.” Sepertinya menyenangkan menjadi asprak. Bisa memainkan praktikan sesuka hati.

Ke-chaos-an dimulai. Beberapa orang yang beruntung bisa langsung mengenali fosilnya, sedikit googling, dan bingo! Dapatlah ia. Beberapa bingung setengah mati karena fosilnya lebih mirip koprolit (re: fosil kotoran, mostly known as shit fossil).

Inilah saatnya kita mencari jawaban, dan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi umat manusia, memiliki ayat yang merupakan jawaban atas segala hal. Ayat itu bisa menjawab tentang cara membangun pembangkit listrik bertenaga nuklir, letak reservoir minyak atau shale gas oil di bawah tanah, dan tak pelak akan dapat menjawab “spesies apakah ini?”

Ayat tersebut, antara lain, An Nahl ayat 43; "

"... maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,"

Accordingly, aku dan beberapa anak membuat janji untuk mengunjungi storage room Museum Geologi dan menemui paleontologist di sana. Harapannya, kita bisa menemukan fosil yang mirip sehingga ada gambaran tentang spesiesnya, atau dapat konsultasi dengan yang ahli. Keduanya telah kulakukan hari Selasa lalu, and it was a worth telling experience.

Selama ini aku menyukai Museum Geologi dan koleksinya, apalagi setelah renovasi yang membuatnya keren gila. Aku pun dulu pernah mengunjungi storage room­ lantai dasar, bertahun-tahujn lalu, dan yang kuingat adalah jajara lemari kayu dengan kaaca yang berdebu dan suram. Saking berdebu dan suramnya aku hampir membawa masker dan senter So imagine my astonishment when I and some other classmates were led to here instead :

Storage room. Ruang eskavasi dan restorasi (?)


Lebih mirip hotel, dengan lorong dan ruang-ruang, dingin ber-AC, semuanya cerah dengan penerangan yang baik. Hotel yang penuh pajangan dalam lemari kaca berkilap sepanjang dindingnya. Ada satu dinding penuh dengan fosil ikan yang bagus, lengkap sampai ke dri-duri dan siripnya. Ada gading superpanjang yang sedang direstorasi, dan beberapa tulang besar di atas meja putih. Aku kagum. Saking kagumnya, aku hampir tergoda untuk putar haluan dari geothermal/energi ke paleontologi, seandainya aku bisa kerja di tempat seperti ini. Aku terharu. Rasanya beginilah kalau ilmu ditanggapi dengan serius, dan uang negara tidak hanya dibawa kongkalingkong ke luar negeri atau masuk saku sendiri.

Kelompok dibagi menjadi kelompok vertebrata dan invertebrata. Hanya beberapa yang mendapat fosil vertebrata, dan mereka diculik ke salah satu ruang di lorong. Enaknya, bisa jalan-jalan. Fosilku adalah ammonite, hal tersebut kuketahui setelah membandingkannya dengan beberapa fosil di ruang display di atas. Spesiesnya apa, itu masih menjadi misteri sampai aku menulis post ini. Padahal makalah dan persentasi sudah harus siap tiga hari lagi.

Konsultasi

Kelompok invertebrata juga diajak ke ruang dokumentasi (?) di lantai dasar. Kalau ruang basement tadi mirip hotel, ruang yang ini mirip Gringotts, bank di dalam dunia Harry Potter itu. Ruang ini juga mengagumkan, dengan barisan rak penyimpanan membentuk lorong-lorong meninggi di dua lantai. Kami didampingi seorang paleontologist dan beberapa teteh yang aku takk yakin apa tugas mereka di sana. Mungkin sedang penelitian.

Gringotts

Awalnya kami satu per satu konsultasi dengan sang paleontologist. Karena jumlah kami terlalu banyak, demikian pula pertanyaan kami, kami akhirnya diizinkan untuk menjelajah dan mencari-cari di antara rak-rak itu. Tujuannya : mencari spesies yang paling mirip dengan yang ditugaskan. Ada yang menarik dan meletakkan rak-rak di lantai untuk diinspeksi isinya secara teliti, ada yang asal tarik karena penasaran isinya.

Ternyata fosil yang on display hanya secuil saja dari seluruh koleksi yang ada. Sekitar … 5 persen?

Aku harus benar-benar menahan keinginan untuk mencomot satu turritella dan membawanya pulang.


UPDATE : Jumat, 2 Desember 2016

Sore itu langit menangis. Aku berjalan menuju Laboratorium Paleontologi di lantai teratas gedung prodi Teknik Geologi. Suram. Tempat ini remang-remang dan bunyi tetes hujan terdengar nyaring, seperti langkah kaki arwah gentayangan. Bisa jadi memang demikian, arwah-arwah penasaran fosil yang tersimpan menjelma ingin tahu apakah kami bisa mengidentifikasi mereka dengan benar atau tidak.

Aku melangkah masuk, siap dengan paper (yang baru dibuat H-1 dan diprint J-1), presentasi (yang baru dibuat J-9), dan penampilan seakan mau dilamar. Entah mengapa shift-shift praktikum sebelumnya berkostum sedemikian rupa dengan jas, dasi, dan gaun; sangat formal. Sungguh cerah dibandingkan lab yang redup-redup gimana gitu.

Aku, setelah mendeskripsi dan seterusnya, meneliti dan seterusnya, menimbang dan seterusnya, memperhitungkan dan seterusnya, dengan ini menyatakan kesimpulan bahwa :

Fosil dengan Kode UAS 23 merupakan ammonite dan merupakan anggota genus Juvavites (Anatomites). Genus ini merupakan anggota Ordo Ceratitida yang hidup pada kurun waktu Trias. Fosil ciri cangkang melingkar planspiral, involute, berbentuk sphaerocone, memiliki ornamen berupa bifurcating rib,  Fosil memiliki kemiripan dengan fosil pembanding Juvavites goniatitiformes dan terdapat perbedaan ukuran cangkang. Penulis asumsikan bhwa spesimen tersebut sama dan merupakan antidiomorph.

 Sungguh analisis yang terdengar hebat, apalagi untuk ukuran paper yang dikerjakan semalam suntuk tanpa tidur. Biasanya sih, sudah teler dan analisisnya melantur. Berhari-hari sebelumnya habis mencari dan membaca literatur.

Maka, yang tersisa adalah presentasi akhir. Aku tampil pertama karena aku bersikeras demikian. Sedikit keteteran karena tidak awas mengenai waktu, tapi aku berhasil melalui sesi tanya-jawab dari asisten praktikum dan koordinator asisten dengan selamat. Setelah yang lain presentasi, foto, shift ini bubar untuk terakhir kalinya.



Ketika aku berjalan keluar dari Lab ba'da maghrib, pikiranku sudah tidak lagi dihantui tentang kehidupan di masa lalu.

No comments:

Post a Comment