Saturday, March 2, 2013

Bahasa Indonesia dan Pergaulan


Minggu lalu, di pelajaran B. Indonesia, ketika sedang membantu teman sekelas menyelesaikan tugas membuat paragraf dan karangan... something came into my mind.

Pasalnya, aku sedang mencari tema untuk paragraf persuasi demi si Ayam (panggilan akrab untuk dia; jangan tanya kenapa). Akhirnya kami setuju untuk mengupas (memang pisang?) masalah pergaulan. Kami menjabarkan sisi positif dan negatif dari pergaulan dan tidak lupa diikuti oleh kalimat persuasi sebagaimana dituliskan di pedoman dalam buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia 1. Isinya kira-kira begini:


Memasuki masa remaja, pergaulan seseorang akan semakin bebas dan semakin luas cakupannya. Banyak manfaat positif yang bisa diambil, antara lain meningkatnya wawasan serta pengetahuan dengan bergaul, menjadi lebih supel dan lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru, dan lain-lain. Namun di sisi lain, ada pula sisi negatifnya. Jika tidak berhati-hati bisa terjerumus dalam pergaulan bebas, pemakaian narkoba, dan sebagainya yang merugikan. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih teman.

Aku awalnya agak puas dengan tema yang agaknya cocok diterapkan di paragraf persuasi ini. Tapi kemudian aku berpikir, aku juga mendapat dampak negatif dari pergaulan baru ini.

Ah, maybe they're nothing as serious as free sex and drug, but still...

Baiklah. Lingkungan pergaulan memang punya banyak pengaruh dalam kehidupan dan pembentukan kepribadian seseorang. Seperti yang di tugas itu, ada yang positif dan negatif.
Sebagai contoh yang positif, ketika aku baru mulai ikut mentoring hari Minggu aku tak pernah shalat tepat 5 waktu. Dulu. Namun lama-kelamaan, mencoba mengikuti senpai-senpai yang agaknya senang menanggapi panggilan adzan, aku tergerak juga. Dan akhirnya, meskipun tak lagi mentoring,  kebiasaan itu masih ada walau tetap saja sering molor -_-

Kalau yang baik dan 'memberatkan' (relatif; ingat, RELATIF) saja bisa bertahan, apalagi yang 'agak nggak baik' namun menyenangkan dan memuaskan?

Aku mulai merasa puas diri. Aku baru sadar. Cuma dengan semua nilai di atas KKM dan banyaknya anak yang minta tolong diajarkan padaku. Merasa puas karena bisa mengikuti dan mengerti pelajaran meskipun tanpa buku. Aku baru sadar, aku bahwa aku bakal terdepak dari SMA favorit kalau hanya segini. My God, there are soo many smart people out there! Seharusnya aku tetap berpegang bahwa SMA tempatku sekarang, bisa dibilang SMA buangan anak-anak yang gagal masuk negeri (see? There are TOO many clever people) tidak bisa dipercaya standar kompetensinya.

Maksudku, lihat saja tes masuknya yang setengah hati. Aku berani taruhan tak ada materi yang tingkatannya lebih dari kelas 2 SMP. Karena itulah aku punya buku pegangan lain yang lebih tinggi standarnya. Namun..

-Aku mulai lupa PR-PR dan sering menganggapnya enteng.
-Aku sering lupa ada PR bahkan kalau ada ulangan.
Aaandd... semuanya berakhir di:

-Nilai-nilaiku turun.

Bahkan pasca-tes materiku mengecewakan.

Jadi kesimpulannya, aku terbawa arus dan mengikuti kebiasaan anak-anak sekitarku. Mereka mungkin punya mimpi, tapi hanya segelintir dari mereka yang sudah punya rencana jangka panjang dan pendek untuk meraihnya. Seharusnya, aku salah satu dari segelintir itu. Seharusnya, aku bisa fokus pada pelajaran when I should to. Tapi aku terbawa sikap hehereuyan mereka.

Jadi, kesimpulan nomor duanya, dampak negatif tak harus langsung tingkat 'ekstrem' seperti seks bebas atau drug. Bahkan perubahan-perubahan sikap kecil yang berlangsung untuk waktu yang lumayan bisa mengubah hidup. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya, itu tergantung pada pilihan yang diambil.

Contohnya teman sekelasku si D. Dia berhasil masuk kelas bilingual biar bilingual abal-abal juga. Dia pernah ikut olimpiade matematika sawaktos  (tiba-tiba Nyunda) SMP. Dia bisa  mudah ngejar pelajaran kalau memang niat. Ia pindah tempat untuk SMA, dan menurut teman yang lain ia jadi bergaul dengan “anak-anak yang begitulah”. Dan kini di kelas, kerjaannya tiduur saja. Nggak peduli pelajaran apapun. Sikapnya juga jadi kasar dan masa bodoh. Sekarang, dia bolak-balik dipanggil BK kayak bolak-balik ke jamban habis makan gurilem level ultra pedas.

Sungguh, latihan membuat paragraf itu benar-benar memberikanku sesuatu untuk dipikirkan. Benar-benar carilah teman dan pergaulan yang bisa membuatmu lebih baik. Teman dan pergaulan yang bisa membuatmu berkompetisi secara sehat demi mendapat pencapaian maksimal. Teman yang dari mereka banyak kebaikan yang bisa diambil. Then may you succed in the future.

No comments:

Post a Comment