Sunday, March 31, 2013

Pesona JaBar : Curug Panganten

Curug Panganten
 Seperti yang kita ketahui, daerah Bandung dan sekitarnya memang kaya akan situs wisata alam. Curug ini di sini, curug itu di sana. Dari curug yang sudah terkenal seperti curug Dago dan Cimahi, sampai curug-curug terpencil namun mempesona di sela-sela bukit yang bejibun jumlahnya.

Kemarin, aku, keluargaku, dan sebagian kecil anggota paguyuban ITB89 (alumni ortuku) mengunjungi Curug Panganten (Pengantin) di daerah Cimahi. Dan inilah ulasan singkat tentang curug tersebut..

Untuk mencapai curug, kita dapat terlebih dahulu memarkir kendaraan di Katumiri. Itu tuh, tempat wisata di daerah Cihanjuang. Dari sana, ikutilah tanda panah atau tanyakan arah pada petugas di sana. Sekitar seperempat jalan bisa dengan mudah dilewati, secara jalannya cukup lebar sudah dilapisi semen, batu, bahkan paving block. Tapi, kebanyakan jalan masih berupa jalan setapak tanah. Nah, jalan setapak inilah yang bisa membahayakan secara kita harus menyusuri kontur dua bukit lalu turun ke lembahnya. Jalan tanah biasanya licin apabila hari sebelumnya hujan atau berembun.

Waktu yang tepat untuk memulai perjalanan adalah pagi hari, demi menghindari panas. Namun, berhati-hatilah pada jalan setapak yang menurun dan licin akibat embun. Disarankan untuk membawa baju ganti, siapa tahu terpeleset. Tapi dijamin seru dan cukup aman, secara setengah dari 'pasukan' kami anggotanya anak-anak (aku nggak dihitung).

Ayah dan Anak (mau motret nggak ada model, orang asing jadilah)
Medan yang dilewati secara keseluruhan tidak terlalu susah, sebenarnya. Jarak dari tempat parkir sampai curug (katanya) sekitar  2 km. Jarak tersebut dapat ditempuh dalam jangka waktu 30-45 menit berjalan kaki. Medan menuju curug cenderung menurun. Dan ketika kembali ke parkiran, yah... selamat berolahraga dengan sedikit berjalan mendaki.

Di tengah perjalanan, setelah melewati jembatan bambu, akan ada persembahan dari alam (bukan Aqua, tapi) berupa pemandangan luas bagian lembah yang menghampar dengan megahnya. Di lembah itulah Curug Panganten berada. Namun dari titik ini kita tak dapat melihatnya, sebab letaknya lebih tinggi dan posisi curug membelakangi tempat ini. Perhatikan pula, ada sarang lebah (atau sarang burung, susah membedakannya) raksasa yang menggelayuti salah satu dahan pohon agak di bawah.

Mulai dari tempat ini sampai ke gerbang curug, jalannya lumayan lebar bahkan sebagian bersemen. Cocok untuk rute sepeda (dan memang rute untuk sepeda. Para pesepeda bisa masuk lewat jalan lain). Tak jauh dari gerbang akan ada parit air yang harus disusuri terlebih dahulu.

gerbang masuk curug

Dari gerbang sampai ke curug, jalannya berupa jalan setapak tanah yang semakin ke bawah semakin licin. Mungkin ini karena karakteristik Curug Panganten, yaitu cipratan airnya yang dahsyat. Tetes-tetes kecil air dari curug bahkan terasa meskipun aku masih ratusan meter jauhnya dari lokasi, dan masih tinggi pula. Tetes air yang berterbangan inilah yang terus membasahi tanah sekitar, membuatnya basah abadi.

Menurut perkiraanku, dasar air terjun ini dangkal. Jauh lebih dangkal dari dasar Curug Bugbrug misalnya, yang dasarnya mencapai 11 meter di bawah air. Padahal, tipe curugnya mirip.
Aku, Ibu, dan Dua Dayang-Dayang Berseragam
Oleh sebab itulah jutaan tetes air bermomentum tinggi tak sempat diredam energinya dan langsung menghantam air; walhasil berterbanganlah titik-titik air yang bagaikan kabut. Ditambah lagi posisi air terjun yang berada di lembah sempit, sehingga titik air itu tak bisa kabur kemana-mana. Mereka menabrak dinding lembah, lalu jatuh kembali ke bawah dalam bentuk tetesan-tetesan.

Karena sebab inilah, tidak disarankan untuk menggunakan kamera yang sensitif akan gangguan tanpa persiapan, sebab dikhawatirkan kameranya akan macet atau bagaimana. Ditambah lagi, sulit untuk memotret jika terlalu dekat dengan air terjun, karena titik-titik air yang akan memburamkan lensa dengan segera. Yah, walaupun mungkin keadaan ini terjadi ketika debit air sedang tinggi saja.

Tempat yang aman untuk memotret adalah pelataran kecil dekat WC di gerbang, dimana terlihat bagian  atas air terjun. Tempat ini juga cukup strategis untuk memotret beruk yang hidup disana, karena cukup luas medan pandangnya.

Beberapa celah di tengah perjalanan turun menuju curug juga cukup terlindung dari 'awan' tetesan air.
Peringatan keras di toilet

Untuk fasilitas di tempat ini, seperti kebanyakan situs wisata lainnya, akan lebih baik lagi apabila dapat dikembangkan. Ada dua saung untuk duduk lesehan yang cukup bersih keadaannya, sebuah warung namun kosong, dan satu WC jongkok tak jauh dari sana. Syukurlah airnya terus mengalir disini.

Untuk flora dan fauna, di sini tersedia bermacam-macam spesies kupu-kupu yang jarang terlihat di perkotaan (sok tahu banget). Seluruhnya, sepanjang yang kulihat, ada lebih dari 8 jenis. Mengingat tempat ini sudah terbilang jauh dari keramaian, kupu-kupu di sini lumayan jinak dan mudah dipotret. Lingkungan sekitar pun cukup hijau, asri, dan tenang. Jika ada yang sedang jenuh pikiran, berjalan-jalan di sini bisa menjadi salah satu sarana untuk menghilangkannya.
Salah satu bidadari kecil bersayap
Terakhir, kenapa namanya Curug Panganten? Awalnya, kupikir pernah ada suatu pernikahan keramat yang dilaksanakan di sini, maka dinamakanlah curug ini Curug Panganten. Namun yang kudengar di lokasi, kabarnya pernah ada sepasang pengantin baru yang bunuh diri bersama di sana. Tragis.

3 comments: