Sunday, March 31, 2013

Konser Amal u/ Palestina, Gasibu 31 Maret 2013

Kemarin, di tengah-tengah perjalanan trekking ke Curug Panganten, si Fi mengirim SMS yang bunyinya: ada launching sarung 4 Palestine di Unpad besok. Mau kesana?

Alhasil, setelah berunding beberapa SMS, jadilah aku pagi ini bangun lebih awal. Jauh lebih awal dari biasanya kalau liburan. Maklum, aku masih belum lepas dari kebiasaan tidur malam dan setiap hari biasa, aku menumpuk hutang tidur yang baru lunas kalau tidur lama.

Kami berjanji akan bertemu pukul 8, pagi tentunya, di gerbang Unpad. Suasana pagi ini cukup ramai, mengingat hari Minggu Gasibu memang selalu penuh dengan pedagang dadakan. Aku berjalan semakin cepat, karena mendadak mendengar takbir di depan monumen Bambu Runcing.


That's it. Ada perasaan hangat ketika melihat bendera Palestina dan Indonesia dimana-mana. Slayer dengan slogan-slogan seperti "Save Al-Aqsha". Keffiyeh atau syal bermotif keffiyeh berkibaran. Kaos distro dengan motif perjuangan... Intifada, Palestine, Gaza. Di sana dan sini, banyak relawan KNRP yang memegang kantong biru untuk sumbangan.

Di panggung, digelar beberapa petunjukan. Musik. Pelepasan relawan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) diiringi dengan pelepasan burung merpati. Tahukah? Ada dua relawan PELAJAR yang akan ikut ke Gaza. Subhanallah. Ada pula doa bersama yang dipimpin oleh seorang Syekh asal Palestina. Pertama kalinya melihat saudara dari negeri para pejuang sana.

Banyak pengunjung yang membawa berbagai marchandise yang sepertinya satu paket. Slayer dan sepasang balon panjang putih bertuliskan "Palestine Style"; jenis balon yang dipakai suporter bola atau badminton untuk menimbulkan bebunyian. Aku tak punya apa-apa kecuali sepasang bendera Palestina dan Indonesia yang dibagikan di pintu masuk.

Slayer dan Bendera
Sepertinya untuk mendapatkan barang-barang itu, kita harus mendaftar terlebih dahulu. Tapi karena yang kuinginkan hanya slayer itu, tanpa malu-malu aku minta ke salah satu sister relawan. Eh, dikasih ternyata =P

Konser ini juga merangkap launching sarung ala Palestine dari Rabbani. Lumayan keren sih sarungnya, tapi aku nggak mampu kalau harus beli.

Karena Fia baru memberitahu bahwa dia bakal datang terlambat ketika aku sudah pergi pagi, maka aku memutuskan untuk melaksanakan misi sampinganku: membeli kerudung baru dan kaus kaki. Setelah selesai, aku kembali ke depan panggung.

Ada kejadian baru yang kualami waktu itu. Sebaiknya di spoiler saja, supaya postnya tak
terlalu panjang...

Kejadian:
Sewaktu perwakilan dari KNRP sedang berorasi, ada seorang pemuda yang mendadak mengacungkan tangan untuk bertanya sambil terus berteriak "Aku juga Islam! Aku Islam! Cuma mau nanya!" kepada orator. Rada ganjil, karena potongannya lebih mirip preman dengan pakaian kucel dan tatto menjalar di pergelangan tangan kiri. Sang orator, yang pidatonya terpaksa terhenti sebentar, mempersilakan dan pemuda itu bertanya. Dengan kurang jelas, ia menanyakan pertanyaan paling menakjubkan pada keadaan itu: kenapa orang Islam di Indonesia dilarang makan Indomie? Kenapa ada minyak babinya? Ini serius, dan aku tak mengada-ngada. Aku sendiri berdiri di sebelah pemuda itu. Orator berkata pertanyaan itu akan dijawab nanti, dan mulai berorasi lagi. Sang pemuda kelihatannya sebal pertanyaannya diacuhkan, dan mulai berteriak, memanggil dan mengacungkan tangan lagi. Orasi selesai dan acara dilanjutkan dengan musik. Si pemuda tampaknya jengkel, dan mulai berbicara langsung dengan siapapun yang ada di dekatnya. "Aneh ya?! Aneh ini." sambil menunjuk-nunjuk panggung tempat orator berdiri tadi. Ia mengulang-ngulang pertanyaannya pada siapapun, sambil berulang-ulang berkata, "Cuma mau nanya. Aneh ini." Beberapa pengunjung menjauh, setengah terganggu dan setengah takut. Aku pikir, ia mungkin provokator yang disewa untuk mengacaukan jalan acara ini... (konspirasi sekali, ya?)... Karena itu aku melayani keluhannya dengan berkata, "Indomie cuma dilarang untuk dimakan kalau terbukti ada minyak babinya, mas. Semua orang kayaknya udah tahu." Tapi ia tampak tak menangkap kata-kataku dan mengulang-ulang (lagi) kata-katanya. Aku bingung. Saat itulah kulihat matanya. Merah, merah tak wajar. Jadi kalau ia tak sedang lagi dalam pengaruh obat-obatan hingga tak nyambung begitu, ia mungkin agak terbelakang. Atau kurang waras. Untuk menenangkannya, kuberi salah satu benderaku dan ia mengikutiku mengibarkan bendera mengikuti musik... untuk beberapa saat. Panitia berbaju putih datang, dan melayani si pemuda dengan sabar. Ya, katanya, ia boleh bertanya nanti. Ya, kita ke sana bareng-bareng. Beberapa kali kejadian berulang tapi si pemuda tak mau menurut dibawa memutar ke belakang panggung. Ia memaksa naik. Yang kutahu selanjutnya, kulihat seorang polisi menanganinya. Mencekal lehernya dengan satu tangan sambil menundukan kepalanya (kepala si pemuda, bukan kepala polisi) dengan tangan yang lainnya. Rekan polisi itu mengawasi dari sampingnya, dan dengan cepat tanpa menarik perhatian, membawanya pergi.
Matahari makin terik membakar punggung. Fia belum datang juga. Dinyalakanlah kipas angin besar dengan mekanisme tertentu menyemburkan angin dan titik-titik air kecil untuk mendinginkan keadaan. Pukul 10 sudah, dan aku bertanya-tanya kemana perginya awan mendung yang tampak begitu mengancam sewaktu aku berangkat tadi.

Fia didn't come, after all. Mengingat panasnya hari ini, aku memutuskan untuk pulang naik angkot saja, bukannya jogging seperti sewaktu berangkat.

Palestina... berapa jauhkah kau dipandang mata?
Namun beritahukan kisahmu, para hati pun terbuka.
Serukan takbir itu, dan hati akan membara
Tahukah engkau? Jihadmulah perjuangan bersama

Semoga keselamatan dan keberkahan diberikan kepada relawan yang esok akan pergi untuk bergabung di Gaza, dan dilimpahkan kepada para pejuang yang ada di sana. Amin.

No comments:

Post a Comment